Tobin’s Q

Dalam penelitian ini nilai perusahaan dihitung menggunakan rasio Tobin’s Q. Tobin’s Q atau biasa juga disebut Q ratio atau Q theory diperkenalkan pertama kali oleh James Tobin (1967). James Tobin adalah ekonom Amerika yang berhasil meraih nobel di bidang ekonomi dengan mengajukan hipotesis bahwa nilai pasar suatu perusahaan seharusnya sama dengan biaya penggantian aktiva perusahaan tersebut sehingga menciptakan keadaan ekuilibrium.

Tobin’s Q menawarkan penjelasan nilai dari suatu perusahaan. Tobin’s Q model mendefinisikan nilai perusahaan sebagai nilai kombinasi antara aktiva berwujud dan aktiva tak berwujud. Nilai Tobin’s Q perusahaan yang rendah (antara 0 dan 1) mengindikasikan bahwa biaya ganti aktiva perusahaan lebih besar daripada nilai pasar perusahaan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar menilai kurang perusahaan tersebut. Sedangkan jika nilai Tobin’s Q suatu perusahaan tinggi (lebih dari 1), maka nilai perusahaan lebih besar daripada nilai aktiva perusahaan yang tercatat. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat beberapa aktiva perusahaan yang tidak terukur atau tercatat.

Rasio ini merupakan konsep yang berharga karena menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dolar investasi dimasa depan. Menurut Smither and Wright (2008), keunggulan pengukuran menggunakan rasio Tobin’s Q diantaranya adalah mempertimbangkan potensi perkembangan harga saham, mempertimbangkan potensi kemampuan manajemen dalam mengelola aset perusahaan serta mampu mempertimbangkan potensi pertumbuhan investasi. Rasio Tobins’Q memberikan gambaran tidak hanya pada aspek fundamental, tetapi juga sejauh mana pasar menilai perusahaan dari berbagai aspek yang dilihat oleh pihak luar termasuk investor. Pengukuran rasio Tobin’s Q sebagai indikator akan lebih memiliki arti jika dilihat nilai rasio setiap tahun. Adanya perbandingan akan diketahui peningkatan kinerja keuangan perusahaan tiap tahun, sehingga harapan investor terhadap pertumbuhan investasinya menjadi lebih tinggi. Jadi semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena semakin besar nilai pasar aset perusahaan dibandingkan dengan nilai buku aset perusahaan maka semakin besar kerelaan investor untuk melakukan investasi yang lebih guna menambah kepemilikan pada perusahaan tersebut.

Nilai Tobin’s Q pada umumnya dapat dihitung dengan membagi nilai pasar suatu perusahaan (yang diukur dengan nilai pasar dari saham yang beredar dan utang) dengan biaya penggantian aktiva. Rumus dasar ini kemudian banyak dikembangkan lagi menjadi :

Tobin’s Q = Market Value of The Firm / Replacement Value of Asset

= Market Value (Equity + Debt + Preferred Stock)
/ Replacement Value of Asset (Plant + Equipment + Inventories)

Analis keuangan lain yang mengembangkan rumus Tobin’s Q adalah Chung dan Pruitt dalam Sudiyatno dan Puspitasari (2010). Mereka mengembangkan rumus Tobin’s Q karena pada kenyataannya biaya penggantian aktiva seringkali tidak tersedia dan sulit diperhitungkan. Oleh karena itu mereka menyamakan biaya penggantian aktiva dengan nilai buku aktiva sehingga rumus Tobin’s Q menjadi:

Tobin’s Q = ME + PS + DEBT / TA

Dimana :

ME : Jumlah saham biasa perusahaan yang beredar x harga penutupan saham

PS : Nilai Likuidasi saham preferen perusahaan yang beredar

DEBT : (Total Utang + Persediaan – Aktiva Lancar)

TA : Nilai buku total aktiva perusahaan

Klapper dan Love dalam Hasibuan et.al (2016) telah menyesuaikan rumus Tobin’s Q dengan kondisi transaksi keuangan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Rumus tersebut sebagai berikut :

Tobin’s Q = ME +DEBT / TA Dimana :

ME : Jumlah saham biasa perusahaan yang beredar x harga penutupan saham

DEBT : Total nilai buku hutang

TA : Total nilai buku aktiva