Leverage

Istilah leverage atau kebijakan hutang merupakan suatu alat penting dalam pengukuran efektifitas penggunaan hutang perusahaan. Dengan menggunakan leverage, perusahaan tidak hanya dapat memperoleh keuntungan namun juga dapat mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian, karena leverage keuangan berarti perusaahaan membebankan resiko kepada pemegang saham sehingga mempengaruhi return saham (Weston dan Copeland, 1997). Konsep leverage ini penting bagi investor dalam membuat pertimbangan penilaian saham. Para investor umumnya cenderung menghindari risiko. Risiko yang timbul dalam penggunaan financaial leverage disebut dengan financial risk yaitu resiko tambahan yang dibebankan kepada pemegang saham sebagai hasil penggunaan hutang oleh perusahaan. Semakin tinggi leverage, semakin besar risiko keuangannya dan sebaliknya (Home dan Marchowicz, 2005). Keputusan pembelanjaan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham. Pada kondisi ekonomi baik, perusahaan yang porsi pengunaan hutang lebih besar dibandingkan modal sendiri mampu menghasilkan laba bagi pemegang saham lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang porsi penggunaan hutangnya lebih kecil dibandingkan dengan modal sendiri. Sebaliknya pada kondisi ekonomi buruk, perusahaan yang porsi penggunaan utangnya lebih besar dibandingkan dengan modal sendiri akan menghasilkan laba bagi pemegang saham lebih kecil daripada perusahaan yang porsi penggunaan utangnya lebih kecil dibandingkan dengan modal sendiri.

Menurut Sartono (2010), leverage adalah penggunaan aset dan sumber dana (sources of fund) oleh perusahan yang memiliki biaya tetap dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham.

Leverage pada penelitian ini merupakan proxy dari nilai perusahaan diukur dengan rasio total hutang terhadap total ekuitas (total liabilities to total equity ratio) atau sering disebut dengan Debt to Equity Ratio (DER) yaitu rasio yang mengukur sampai seberapa jauh penggunaan hutang perusahaan sebagai sumber pembiayaan perusahaan terhadap ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. DER mencerminkan besarnya proporsi antara total debt (total hutang) dan total shareholder’s equity (total modal sendiri). DER dapat menunjukkan tingkat resiko suatu perusahaan dimana semakin tinggi rasio DER, maka perusahaan semakin tinggi resikonya karena pendanaan dari unsur hutang dibagi dengan modal sendiri.

DER merupakan salah satu pengukur seberapa jauh perusahaan tersebut memiliki pinjaman terhadap kreditur. Apabila nilai rasionya semakin tinggi, maka semakin besar perusahaan tersebut memperoleh dana dari luar, sebaliknya apabila nilai rasionya semakin rendah, maka semakin kecil pula perusahaan tersebut memperoleh dana dari luar. Menurut Brigham dan Houston (2012), perusahaan dengan DER yang rendah akan memiliki risiko kerugian yang kecil ketika keadaan ekonomi mengalami kemerosotan. Namun disaat kondisi ekonomi membaik, kesempatan dalam memperoleh laba juga rendah. Tidak menutup kemungkinan sebuah perusahaan yang memiliki DER yang besar tidak lebih bagus dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki DER yang kecil karena terkadang hutang dibutuhkan.