Investment Opportunity Set (IOS)

Munculnya istilah IOS pertama kali dikemukakan oleh Myers (1977) yang menguraikan pengertian perusahaan, yaitu sebagai suatu kombinasi antara aktiva riil (assets in place) dan opsi investasi masa depan. Menurut Gaver dan Gaver (2003) opsi investasi masa depan tidak semata-mata hanya ditunjukkan dengan adanya proyek-proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja, tetapi juga dengan kemampuan perusahaan yang lebih tinggi dalam mengeskploitasi kesempatan mengambil keuntungan dibandingkan dengan perusahaan lain yang setara dalam suatu kelompok industrinya.

Pilihan investasi merupakan suatu kesempatan untuk berkembang, namun seringkali perusahaan tidak selalu dapat melaksanakan semua kesempatan investasi di masa mendatang. Bagi perusahaan yang tidak dapat menggunakan kesempatan investasi tersebut akan mengalami suatu pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kesempatan yang hilang. Nilai kesempatan investasi merupakan nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang. Secara umum dapat dikatakan bahwa IOS menggambarkan tentang luasnya kesempatan atau peluang investasi bagi suatu perusahaan, namun sangat tergantung pada pilihan expenditure perusahaan untuk kepentingan di masa yang akan datang. Oleh karena sifat IOS yang secara melekat tidak dapat diobservasi (inherently unobservable), maka harus digunakan proksi dalam mengukur IOS perusahaan agar dapat dilihat hubungannya dengan variabel-variabel lain (seperti kebijakan dividen dan pendanaan perusahaan). Beberapa proksi dalam mengukur IOS telah digunakan dalam penelitian[1]penelitian sebelumnya, seperti penelitian Smith dan Watts (1992), Gaver dan Gaver (2003), Kallapur dan Trombley (1999) yang dikutip dan Jones dan Sharma (2001), berbagai proksi tersebut secara individual dijelaskan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu:

Price-Based Proxies

Pendekatan ini berdasar pada pemikiran bahwa harapan pertumbuhan perusahaan dinyatakan, paling tidak secara parsial dalam harga saham, sehingga perusahaan bertumbuh akan memiliki nilai pasar lebih tinggi relatif terhadap aset yang dimiliki (asset in place). Proksi berdasarkan harga ini berbentuk rasio sebagai suatu ukuran aset yang dimiliki dengan nilai pasar perusahaan. Rasio-rasio yang telah digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya sebagai proksi berdasar harga dalam pengukuran IOS antara lain adalah: market to book value of equity, market to book value of assets, earnings to price ratios dan ratio of property, plant, and equipment to firm value serta ratio of depreciation to firm value.

Investment–Based Proxies

Pendekatan ini berdasar pada pemikiran bahwa tingkat aktivitas investasi yang tinggi secara positif berhubungan dengan IOS suatu perusahaan. Perusahaan dengan IOS yang tinggi akan memiliki investasi dengan tingkat yang tinggi pula sebagaimana IOS telah dikonversikan ke dalam assets in place waktu demi waktu. Proksi berdasarkan investasi ini berbentuk rasio yang membandingkan ukuran investasi dengan ukuran aset yang telah di miliki atau hasil operasi dari aset yang telah di miliki. Rasio[1]rasio yang telah digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya sebagai proksi berdasar investasi dalam pengukuran IOS antara lain adalah: ratio of R&D expense to assets, ratio of R&D to sales, ratio of capital expenditure to total assets, ratio of capital expenditure to firm value, investment intensity, investment to sales ratio, ratio of capital additional to assets book value dan log of firm value. Current asset on net sales.

Variance Measures

Pengukuran ini berdasar pada pemikiran bahwa opsi-opsi investasi menjadi lebih bernilai jika menggunakan variabilitas ukuran untuk memperkirakan besarnya opsi yang tumbuh, seperti variabilitas return yang mendasari peningkatan aktiva. Rasio-rasio yang telah digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya sebagai proksi berdasar varian dalam pengukuran IOS antara lain adalah: variance of returns, assets betas dan the variance of assets deflated sales.

Menurut Senda (2013), metode yang digunakan untuk menghitung IOS, adalah dengan menggunakan investment based proxies yaitu current asset on net sales (CAONS) yang merupakan kombinasi antara aktiva lancar yang dimiliki untuk pilihan investasi di masa yang akan datang.

Menurut Baridwan (2012) membagi aktiva lancar sebagai berikut :

  1. Kas, yaitu berupa uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai operasi perusahaan.
  2. Investasi jangka pendek (temporary investment), yaitu berupa obligasi pemerintah, obligasi perusahaan – perusahaan industri dan surat-surat hutang, dan saham perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali.
  3. Wesel tagih (notes receivable), yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu promes.
  4. Piutang dagang (account receivable), meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseroan yang timbul karena penjualan barang dagangan atau jasa kredit.
  5. Penghasilan yang masih akan diterima (accrual receivable), yaitu penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa-jasnya kepada pihak lain tetapi pembayarannya belum diterima sehingga masih merupakan tagihan.
  6. Persediaan barang (inventories), yaitu barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, uang masih ada ditangan pada saat penyusunan neraca.
  7. Biaya yang dibayar dimuka, yaitu pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi biaya atau jasa daripihak lain itu belum dinikmati oleh perusahaan pada periode yang sedang berjalan.